Ya. Perjuangan gue dan
teman kost Katelia Raya Syariah untuk bisa melihat Esmeralda; salah satu
personil kita bersanding di pelaminan belum selesai sampai di sini. Jam
menunjukkan jam 10.30 saat kita selesai membidik momen dan bergegas pergi.
Karena letak penginapan dan rumah Esmeralda yang cukup jauh, gue dan teman
teman akhirnya memutuskan untuk kondangan sekalian pulang.
Lo tau khan arti dari
kondangan sekalian pulang?? Ya, gue akan kondangan sambil membawa serta tas
rudal gue. Gue udah dandan cantik cantik khan, gue pake baju sehalus sutra yang
menjuntai sempurna dengan jilbab yang kalau gue liat liat lagi lebih mirip
kayak kopyah milik Aa’ Gym dengan pulasan eye liner yang menukik menantang bulu
alis beserta pemulas bibir yang lebih tebal dari biasanya, dengan bawahan
wedges setinggi lima centimeter agar tubuh gue lebih tinggi kayak tiang lampu
taman Waduk Pluit, ehh...bawa bawa tas segede rudal Rusia yang gelendotan di
punggung gue. Mana harus bawa kado untuk Emeralda yang kalau diliat liat lagi
orang jadi bingung. Itu kado apa kresek sampah? Di situ kadang gue merasa
senang, karena sebentar lagi gue akan foto sama pengantin baru, Esmeralda.
Ini mau kondangan apa mau minggat sebenarnya? |
Semua barang udah dibawa,
sekarang gue dan teman teman harus cari cara bagaimana bisa menggapai tempat
resepsi.
Rencana semula
berdasarkan petunjuk dari Esmeralda : Nanti teh naik angkot aja, murah atuh
dari penginapan sampai tempat resepsinya cuman 50ribu aja pasti mau. Kamu sewa
aja angkotnya buat berempat.
OK! Let’s do it! Pertama
tama, gue dan teman teman menghadang angkot. Nah, dapett!!
“Mang, ke Kadungora,
Mang. Ini alamatnya. Kita mau sewa sampai rumahnya. Sabaraha?” Setelah
mengucapkan kata sabaraha gue bangga. At least, gue tahu bahasa Sunda walo
hanya tiga suku kata.
“Sabaraha.”
“Kumaha damang.”
“Bodo teiiiiiingg!!”
“Owh, ini jauh
neng...ya..150ribu lah.” Lah, kenapa jadi triple begini??
“Hahh, kok mahal? 50 lah
mang..” Mungkin karena kita pake baju pesta dikiranya dompet kita tebel. Harusnya
kita nyamar dulu pake seragam SMA.
Harusnya gue ganti baju dulu macam ini. |
“Abang, adek mau ke Kadungora,
bang...mau sekolah.”
“Owh, iya dek. Sini abang
anterin...”
“Berapa bang?”
“Buat adek, abang rela
dibayar berapa aja. Abang ikhlas.”
Indahnya dunia ini.
Tapi, gue takut kalau gue
dan teman teman pake seragam SMA, orang orang nyangka kita nggak pernah naik
kelas. Muka sama baju nggak singkron.
“Ya udah 75 ribu,
bang...”
“Nggak bisa neng,
Kadungora itu jauhh...”
“Ya udah, 100 lah
mang...plissss...”
“Jauh neeeng...150ribu.”
“Ahh, mendingora mang..
Larang men jan...”
“Mendingora dimananya
Kadungora neng??”
“MENDING ORA USAH!! LARANG ANGKOTE, PAKLEEEEEEKKK!!!"
Gue emosi. Pak sopir
emosi. High heels Marimar juga emosi. Nggak jadi. Tapi, ternyata sopir
itu loyalitas dan kekompakannya sangat luar biasa. Begitu dia jalan, dia ketemu
angkot yang berlawanan arah, mereka berhenti dan membisikkan sesuatu. Nah,
angkot yang ke atas jalan, dan bertemu lagi ke angkot yang ke arah bawah atau
Kadungora, mereka ngrumpi dulu. Begitu gue berhentiin angkotnya, pak sopir udah
menunjukkan raut muka mencurigakan.
“Kadungora
neng??”Buseet!! Ini sopir apa dukun?
“Iya bang..”
“Ayo, 150ribu neng..”
OK Fine!! Mereka para
angkot Garut telah bersekutu dan menyerang Charlie Angel Syariah. Mereka telah
bisik bisik tetangga.
“Noh, lo liat empat cewek
pake baju coklat kayak nasi goreng di sana. Mereka mau ke Kedongora, tapi nggak mau bayar
150ribu. Kalo lo sampe ngangkut tuh eneng eneng di bawah 150ribu, persahabatan
kita berakhir sekarang juga!!Tapi lo harus ati ati. Sandal mereka gede gede,
apalagi yang pake tas item gede, sandalnya kayak bambu runcing.”
“Oke, bro.”
--
Karena frustasi, gue dan
teman teman gue memutuskan untuk naik dokar a.k.a delman!! Gue rasa kita emang
butuh sedikit udara segar. Naik dokar di sini jelas sangat mengasyikkan karena
udara tak terlalu panas dan no pollution. Beda cerita kalo gue naik delman di
Jeckardah sana. Seneng kaga, disrempet KOPAJA iya.
“Woyyy!! MINGGIR WOYYY!!
KOPAJA MAU LEWAAATT. TABRAK NIHHH TABRAKKKK!!!”
Naudzubillah,ngebayangin
aja bikin gue merinding disco. Kopaja emang gitu, nggak ngertiin perasaan koda.
Akhirnya, gue, Marimar,
Barbara dan Casandra nyanyi dulu biar soy.
“tuktiktaktiktuktiktaktiktuuuuukk...ku
duduk di muka supaya baik jalannyaaaaaa....”
Terakhir kali gue naik
dokar macam begini tuh saat gue di Bandungan-Ambarawa, kota kecil asal gue di
Semarang sana. Di sana, udara lebih sejuk dengan pemandangan yang lebih amboy.
Gue benar benar kangen pingin pulang. Tapi, setidaknya kerinduan gue akan
Ambarawa sedikit terobati dengan ide brilian Barbara ini. Iye, dia yang dengan
penuh semangat mengajak kita naik dokarr!!
“Udah, kita udah dimusuhi
sama angkot se-Garut. Ini adalah jalan satu satunya. Naik dokarr!!”
“Tapi mbak, kita khan
masing masing bawa tas segede gaban, emang muat??”Casandra interupsi.
“Muat neeeng...muat..”
Abang dokar siap menjemput rejeki.
“Tapi, kita udah cantik
begini, mana pake wedges dan heels, masa naik dokaaar??” Marimar protes.
“Laaaah!! Lo ga tau
Cinderella yang sepatunya aja kaca begitu naik apaaa??”
“Ya itu khan kereta
kencana mbaaaaak...Ibu peri yang bikin..kereeeen...berlapis emas..” Gue
sekarang mengajukan orasi.
“Apa kata pepatah Bahasa
Indonesia bilang yang pake rotan rotan itu coba??” Barbara bersikeras.
“Tak ada rotan, akar pun
jadi??” Gue menebak.
“Tuh, lo pintar. Itu
artinya..tak ada kereta kencana, kereta seadanya pun jadi...DOKARRR!!NAIK!!”
Akhirnya, keempat putri
abal abal naik kereta kencana ala ala. Dan kita semua bahagiaaaaa... Naik dokar
itu tenyata seru bangettt!! Walopun naiknya susah karena rok merumbai kemana
mana, mana pake sepatu hak tinggi semua udah macam kayak main akrobat begini,
tapi sensasi tersendal sendal kuda emang asik!! TUK TIK TAK TIK TUK!! Lo tahu
kita bayar berapa? Dua puluh ribu!!
Kereta kencana kita |
tampak grouvi |
tampak depan kanan |
tampak depan kiri |
Belum belum...ini belum
selesai. Kita harus tetap menyewa angkot. Hanya saja di bawah, angkot yang ini
tidak sama dengan angkot yang tadi karena berbeda trayek ato jurusan. Setelah
melakukan negoisasi dan Marimar berkedip sebanyak lima kali, sopir menyetujui
untuk mengantarkan kita dengan membayar 80ribu! Let’s goooo!!
Rok sehalus sutra udah disetrika dengan sepenuh jiwa, laaah...buat beginian... T.T |
AKHIRNYAAAA, SODARA
SODARAAAA!!! Setelah menempuh perjalanan begitu jauh dan berliku liku, kita
berempat bisa sampai juga di pernikahan Esmeralda. Setelah makan dan menunggu,
akhirnya kita bisa begini!!
Sumpah, gue nggak ngerti bapak bapak ngapain mana pake nylempit2 ke sana. |
Tapi, sayangnya Esmeralda
tak mengenakan jalinan bunga di pundaknya seperti pernikahan adat Jawa. Upaya
untuk minta bunga sirna sudah.
“Makasih yaaaa...udah
dateeeng...Kapan nih pada nyusul??”
“Doain aja
Esmeraldaaa...” Jawaban mainstream kompak keluar dari mulut kita.
Karena bagi gue, menikah
adalah keputusan paling besar umat manusia, melebihi keputusan mau makan siang
pake apa, kuliah dimana, atau ambil jurusan apa. Kayak temen gue, begitu dia
kuliah dan dia sadar kalau jurusan yang dia pilih salah, dia bisa ganti
fakultas sampai ganti universitas. Lah kalau menikah??
Apa iya kita harus menua
dengan pilihan yang salah?? Apa iya kita harus berbagi hari tanpa berbagi
hati?? Menikah buat gue bukan barang main main. Ini akan menentukan kemana arah
sisa hidup kita. Ini akan menentukan cara hidup kita selanjutnya. Ini akan
menentukan segala sisi kehidupan yang kita punya.
Bahkan, kata orang
menikah bukan melulu soal “Aku cinta sama kamu, yuk kita nikah!”. Karena cinta
bersifat hormonal dan sementara. Sekarang cinta belum tentu lima, sepuluh, lima
belas tahun kemudian masih memendam rasa cinta yang sama walo kata Ed Sheeran :
“ And, darling, I will be loving you 'til we're 70
And, baby, my heart could still fall as hard at 23"
Tapi, rasa saling
menghormati, menghargai dan rasa saling memiliki serta komitmen untuk terus
hidup bersama yang bisa menyatukan hati sampai mati. Begitu kata pak Mario
Teguh atau akan gue rangkum di pelajaran hidup nomor 78 :
“Jangan menikah hanya karena cinta. Cinta bersifat hormonal dengan rentan waktu sementara. Rasa saling memiliki, sifat saling menghargai dan komitmen untuk terus bersama dalam suka duka adalah alasan mengapa sepasang kakek nenek masih saling bergenggaman tangan di akhir perjalanan”
Jam 2 siang kita harus
pulang karena harus kembali ke Jakarta. Namun, begitu keluar dari resepsi, kita
rapuh.
“Lah, kita kan nggak
mungkin duduk 4 jam di bis pake baju macam ini?” Marimar bingung. Gue bingung.
Tas rudal bingung.
“Ya udah, kita sholat
dhuhur sekalian ganti baju gimana? Tuh mushola?” Barbara memberikan ide.
“Bar, tapi musholanya
kaca semua...” Casandra sedih. Kita menatap nanar masa depan. Namun, kegamangan
kita di tengah jalan menarik simpati seorang Ibu ibu, tetangga Esmeralda.
“Teeeeh...ganti baju di
sini aja..sekalian sholat juga bisa...”
“Orang Garut baik baik
ya...” Ucap gue sambil memanjatkan syukur ke hadirat Alloh.
Begitu kita ganti baju,
kita harus jalan sampai jalan raya sejauh kira kira 500 meter di tengah mentari
yang bersinar garang. Namun, sebelumnya gue dan teman teman berfoto di sawah
dulu karena di Jakarta nggak ada sawah, adanya emol. Liat noh muka mukanya girang semua. Makelum, di Jakarta jangankan sawah...liat tanah aja susah. Aspal semuaaaaaaa!!
---
Di bis menuju perjalanan
pulang gue banyak berpikir. Tentang masa depan. Tentang mengumpulkan niat yang
masih berserakan. Tentang meluruskan tujuan agar menuai keberkahan. Mana pake
hujan segala di sepanjang perjalanan. Khan gue jadi galau. Gue jadi duduk tak
bergeming tepat di pinggir jendela, memandang tetesan bulir air yang mengalir
turun meninggalkan uliran berkelok kelok. Ditambah lagu lagu mellow yang
menyeruak dari speaker bis Primajasa.
Dan perjalanan menuju
Garut usai sampai di sini. Dalam hidup gue, ini adalah kali pertama gue melakukan trip bersama teman jenis lain, yaitu teman kost. Suatu hari nanti, lima atau sepuluh tahun lagi mungkin salah satu dari kita bisa mengecap persahabatan kita saat masih muda.
Casandra : "Lha, ini lho nduk...dhulu waktu mamah masih mudha..."
Anak : "Oh...lha inhi siapha yhang bhibhirnya merah bhanget??"
Casandra : "Ithu Marimar, dhia emang yhang phaling pinther dandan... Ithu khan mamah minta dia makanya bhibhirnya sama warnanya.."
Anak : "Oh...lha itu yhang difoto malah ngeliatin perut?"
Casandra : "Olha ithu...themen mamah yhang suka rebutan wajan, kamar mandhi, sama suka ngejar ngejar kecoak terbhang sama gagang sapu ijuk. Mukul kagak, teriak iyaaaaak. Namanya Mercedes. Katanya sekarang udhah punya anak lima..."
Anak : "Laaaah...mamah nggak pingin adhek lagi?"
Casandra : "Ya nanti rembugan dulu sama papahmu..."
--
asik ceritanya seru mbak... asli...dari awal ngebaca jadi kecanduan pengen baca smpe selesai...tulisan sepanjang itu berasa singkat aja karena menarik...
BalasHapushehehehe... bdw asyik ya ke kondamgan naek dokar.
tp lain lubuk lain ilalang ya, klp ditempatku yg kota kecil kaya gni,, pasti dipermalukan ky gtu. pdhal kan asyik perjalanan ky gtu :(
sedihnya saya tinggal di kota kecil :(
Ice cubes See makes contemporary together with different fashionable pieces on their set. For those who confer with other type one can find similar continual variations however , utilizing Ice cubes you will get to look at different rolex replica uk on every occasion. Any creators for Ice cubes structure an item different together with alluring to your users. Ice cubes works with producing different colourings together with different variations thrice a good tag heuer replica. Consumers will present terrific working experience utilizing Ice cubes, mainly folks that consider shifts on their layout occasionally. For those who abide by Ice cubes then a appearance will not ever get hold of ancient, as you may can be different all the time everyone dress in any Ice cubes see. Some form of consideration together with care process meant for tag heuer replica uk pieces comprises this particular guidelines. For example other job for ornate art together with systems, a good chanel replica entails rare maintenance together with care. There's lots of regions over the see the place dirt and grime, body system essential oils together with other fatty fibers build-up, which include amongst the one way links over the accessory, the neighborhood connecting to the fact and also bezel, together with surrounding the Cyclops aperture. Regarding frequent take advantage of, you will realize appears these types of dirt and grime fibers for your breitling replica. Anytime these types of fibers are noticed, any see will have to have a maintenance mainly because discussed down the page:
BalasHapuspengalaman yang menari mbak. Emang kadang tukang angkot ngeselin, saya sudah bosan sekali naik angkot dan sudah hafal berbagai jenis kelakuan sopirnya. Saya sudah nggak ingat rasanya naik andong. Waktu itu saya pernah naik, agak takut juga, tapi menyenangkan. Menikah memang bukan persoalan mudah. Membutuhkan kehati-hatian. Karena menikah itu sekali untuk seumur hidup. Sawahnya indah, sawah memang membuat hati ini adem dan tenang. Suasana di desa itu sejuk dan menyenangkan :)
BalasHapuswaduh, dokar...rasanya gimana tuh ya
BalasHapusseumur-umur juga nggak pernah liat kuda jadi penasaran.
Angkot emang gitu tuh, suka ngeselin, saya pernah diminta ongkos dua kali lipat padahal awalnya si kernet setuju ongkosnya dikurangin sedikit.
dan itu, setuju banget ama kata-katanya pak Mario Teguh... :)
Aaaaak asik banget gaya ceritanya. Apalagi pas bilang Charlie Angels syariah! kampret kok kepikiran sih hahahha
BalasHapusWih asik ya naik dokar, tp difotonya kok gak ada pak kusirnya ya. apa jangan jangan kalian yang bawa sendiri kusrinya gitu haha
Btw kapan nyusul esmeralda nih?
Adat jawa rupanya ada ya lempar-lempar bunga gitu ya, tapi kan esmeralda itu kan orang sunda?
BalasHapusSeru gitu ya kalau baca ceritanya kak meyke selalu diselipin humor-humor ringan yang membuatku tertawa diatas penderitaan kak meyke. Nggak bisa ngebayangin deh kalo datang ke sebuah kota tapi malah dibenci sama kang angkot sekota gara-gara nawarnya kebangetan
Anaknya udah kritis tuh mau minta dedek lagi
Aje gile 150rebu plus 80 rebu, emang sejauh apa sih tempatnya dari tempat kalian nginep? Duit segitu bisa bandung - jakarta naek travel hahaha
BalasHapusTapi iya sih, tukang angkot kan suka gitu ngerampok penumpang yang kelihatannya bling bling. Kalau di kota ada isitilah kampungan, mungkin di kampung da isitilah kotaan hha
Btw, itu gambar sawah yang belakangnya ada gunung mengingatkanku dengan gambar gunung yang suka ku bikin pas SD hha
Wah Kak Mey kapan ke Garuuuut? Kenapa gak lanjut ke Garut Kota-nya mampir ke rumahku haha. Itu Kak Mey nyewa angkot ke Kadungora dari mana kok mahal ya 150?
BalasHapusAku pengen ketawa-ketawa sendiri baca kamu naik delman (oh ya di Garut ini namanya delman) dan empet-empetan di angkot pake baju kondangan. Udah gitu bawa tas gede pula. Ya ampun Kak, itu bener-bener unik banget. Seru!
Iya dong, pasti kesenengan ya nemuin sawah dan pemandangan seger lainnya? Lain kali coba ke Garut lagi ke tempat wisata yang lain Kak, nggak nyesel deh :)
HUwaaaa...
BalasHapusIni cerita panjang bener, yak. Kalau gak salah waktu itu baca episot sebelumnya, yang salah bis itu, yak? Yang muter-muter? Ternyata melakukan perjalanan untuk menghadiri resepsi pernikahan teman, hampir sesulit menjawab pertanyaan 'kapan nyusul' yang begitu mainstream.
Wkwk. Asli. Kalau aku yang jadi amang-amang supir angkot, ngeliat cewe-cewe berbaju kondangan plus dengan kaki-kaki berjinjit, semua tujuan yang disebutkan akan aku jawaab jauuuuhhhhhhhh, hak hak hak.
Tapi, endingnya seru. Apalagi yang foto-foto di sawah, asli! Keren! Jarang banget ada sawah yang pas bener di belakangnya keliatan gunung segede itu. Jadi pengen!!
Asli Panjang Bener Sampe Panas Mata Gak Ngedip2
BalasHapus