Terang, berkerlipan,
cantik, ramai...dan romance. Itu yang bisa saya gambarkan dari taman Lampion
yang berada di areal museum Jogja Kembali, Jogjakarta pastinya.
Yap! Setelah puas mengisi
perut sampai kekenyangan di Dae Jang Geum Resto, saya bersama kedua teman saya
melanjutkan perjalanan keeeeeee....
Jeng jeeeeeng!!!
Setelah sempat (seperti
biasa) kebablasan dulu, akhirnya sekitar pukul 8 PM kita bisa menginjakkan kaki
ke area Monumen Jogja Kembali yang kini disulap menjadi taman dengan berpuluhan
bahkan mungkin ratusan lampion yang menggantung di langit langit taman,
berpuluham lainnya menjelma menjadi beraneka bentuk serupa biota laut, angsa
pacaran, bunga cantik, pelangi, bahkan tugu muda dan burung raksasa yang menghiasi
sisi jalan mengitari museum Jogja Kembali yang berdiri menawan. Dengan
memindahkan 3 lembar lima ribuan ke mbak mbak tiket Taman Lampion, kita pun
masuk ke lautan lampu dan lampion malam ini!!!
credit |
Lampu kerlap kerlip yang
melengkung menyerupai terowongan dan bak titik titik hujan juga semakin
mempercerahkan hidup para pengunjungnya. Jadi bagi siapa yang hidupnya perlu
dicerahkan, bisa mengunjungi tempat ini. Ini juga alasan kenapa saya ke sini.
Dikutip dari perkataan
pengelola taman ini, Pembuatan Taman Pelangi – Jogja Night Recreation dilatarbelakangi
pada suatu kebutuhan akan minat wisatawan untuk menikmati hiburan / rekreasi
pada malam hari di kota Jogja. Sementara hampir semua tujuan wisata di kota
Jogja menyediakan layanan pada waktu pagi hingga sore hari, yaitu seperti
Keraton, Taman Sari, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Pintar, dll.
Bukan hanya menyodorkan gemerlapan
lampion yang tersebar di segala penjuru taman, taman Pelangi yang dibuka sejak 17
Desember 2011 ini juga memberikan hiburan lain serupa Puri Hantu bagi mereka
yang suka horor. Akan terdengar teriakan dari para pengunjung yang sedang
menantang dirinya sendiri diri dari rasa takut di dalam puri. Sebagai penggemar Dunia Lain di
TransTV, Sebenarnya saya tertarik dengan wihana yang satu ini, hanya saja
karena teman saya tidak berminat, saya urungkan niatan saya.
Lalu, di salah satu pojok taman, ada pula serupa lapak lapak berjejeran, lalu ditambah dengan penyewaan sepeda tidak tunggal, lalu kereta kecil yang dikayuh berkerlipan, dan juga becak yang juga berkerlipan. Naaah, ini seru! Terlihat seru dan mudah, kita menjatuhkan pilihan ke sepeda berseat tiga. Tetapi, karena ternyata kayak gini perlu latihan mengharmonisasikan kayuhan dan berat badan biar seimbang, kita pun gagal. Rantainya itu lho, lepas mulu. Karena frustasi, akhirnya kita menjatuhkan pilihan ke becak berkerlipan, berhubung kereta lampunya sudah habis dipakai orang. Begince jadinya!
Lalu, di salah satu pojok taman, ada pula serupa lapak lapak berjejeran, lalu ditambah dengan penyewaan sepeda tidak tunggal, lalu kereta kecil yang dikayuh berkerlipan, dan juga becak yang juga berkerlipan. Naaah, ini seru! Terlihat seru dan mudah, kita menjatuhkan pilihan ke sepeda berseat tiga. Tetapi, karena ternyata kayak gini perlu latihan mengharmonisasikan kayuhan dan berat badan biar seimbang, kita pun gagal. Rantainya itu lho, lepas mulu. Karena frustasi, akhirnya kita menjatuhkan pilihan ke becak berkerlipan, berhubung kereta lampunya sudah habis dipakai orang. Begince jadinya!
Menggenjot bergantian
mengelilingi taman sebanyak dua kali sambil itung itung olahraga malam agar terjaga kebitingan kelangsingan tubuh kita yang sangat berharga, sarana hidup satu
satunya di dunia fana ini.
Bagi kalian yang masih
punya pacar, bisa juga menikmati kilahan air di kolam yang mengitari museum
sambil membicarakan masa depan bersama, siapa tahu bisa tercapai. Jangan lupa
sambil beli cemilan dan juga melihat kelipan lampion lampion yang sumebyar di
langit taman.
Bagi yang suka
ketinggian, bisa juga mencoba flying fox, seperti saya.
Saya meluncur dari tempat
start nan tinggi di depan wahana permainan anak anak, lalu menyeberang salah
satu sisi kolam dan berakhir di bibir kolam seberang. Asik sekali. Tapi, so far
fling fox paling asoy yang pernah saya coba adalah flying fox yang ada di UmbulSidomukti, Bandungan yang terjadi dua tahun yang lalu. Kita akan meluncur horizontal miring menyeberang tebing
dengan lembah sawah berterasering dengan panjang luncuran yang lumayan. Nanti
bisa dilanjutkan dengan meniti jaring jaring raksasa yang juga beralaskan
tebing persawahan sambil melihat hamparan kota Ambarawa dan sekitarnya nan jauh
di sana.
Ngomong ngomong soal
Taman Lampion, untuk bisa menjadi tukang becak abal abal atau pun mengayuh
sepeda dengan harmonisasi kayuhan, pengunjung dikenakan biaya 15ribu. Khusus
untuk menikmati semilir angin malam dengan mengayuh serupa kereta penuh lampu
kita merogoh saku 5000 lebih dalam, 20ribu. Untuk bisa meluncur di atas kolam,
saya perlu modal 15ribu.
Perjalanan kita lanjutkan
di salah satu area yang sebagian besar dikhususkan untuk para anak anak serupa
kereta kecil, oto-ped, trampolin dan lain lain. Ada juga lampion Tugu Muda, dan
lampion menyerupai presiden ato apaan gitu. Lapak lapak makanan berjejeran, dan
ada musik LIVE nya lho! Waktu itu nyanyi apa ya, galau gitu pokoknya. Syedih!
Dan setelah duduk
sebentar, karena jam sudah menunjukkan pukul 9.30 PM, kita memutuskan untuk
pulang dan mengecharge diri. Besok adalah hari yang paling saya tunggu tunggu.
Besok adalah main destination saya.
Saya sudah membayangkan
bagaimana serunya terseret arus sungai, atau menyelusuri gua, atau lompat dari
atas ke bawah menghasilkan bunyi jlebuuuuur diii Goa Pindul!!!!
Can’t Wait!!
Baiklah saudara saudara,
perjalanan saya kali ini mengantarkan pada sebuah ajakan dalam mengarungi hidup
yang penuh tantangan ini, “Let’s light up our life!! Let’s shine bright like a
diamond! Semangaaat!!!”
Dan karenanya, kita
mengakhiri perjalanan kita di hari pertama piknik saya di Jogja ala nggembel backpacker ini.
Taman Pelangi Tiket Masuk
Weekday (Senin-Kamis) Rp
10.000
Weekend (Jum’at-Minggu)
Rp 15.000
Buka 17.00 – 23.00
Alamat : Monumen Jogja
Kembali (Monjali) Jalan Raya Ring Road Utara Yogyakarta
References :
waaaaa I wanna do the same!!! so much!!! kapan yaaaa :o
BalasHapusayo Rayyyy...it is the damn perfect time!!!
Hapusaaaaaaaaaaarrgh seriuusan nih aku baru tau di Jogja ada pesta Lampion gitu hadewww
BalasHapusbagus banget ya itu malam2 penuh warnawarni lampu lampion, pasti romantis deh
eh tapi abang2 becak emg kadang mahal tarifnya Meyk, so km harus pandai2 menawar hehe
mudah2an aku bisa ke Jogja lagi Meyk amin
iya mbak ini lumayan baru bukanya mbak...bisa lah mbak..Jogja gini masih satu pulau sama Jekardaaaaah..:D
HapusdUHHHH, asik banget yg liburaaaannn :)
BalasHapuskereeeen.
BalasHapusLiat foto yang pertama yang kepikiran langsung Laruku :D
Laruku itu apa???@.@
HapusWah, indah banget lampion2nya..
BalasHapusAda yang bentuk phoenix lagi, jadi pengen kesana -__-
udah ke Jogja aja Dio, apa apa adaaaa..hahaha
Hapuswih serunya.. jadi semakin pengen ke jogja nih -__-
BalasHapusduitnya banyak nih haha jalan2 melulu. enakan yah bisa refreshing terus
BalasHapuslampionnya bagus
aamiin semoga banyak beneraaaan..hehehe, tapi soalnya ini tu satu rangkaian perjalanan gitu ok Pandu...hehe..tapi aku review per tempat gitu..
Hapuswaaw senangnyaa.. klo di malang ad tuh taman lampion.. tapi masuknya lebih mahal TT^TT
BalasHapusowh, emng brapaan?
Hapuswaaahhhhhh aku tau taman pelangi ini. tu kan Jogja INDAH!
BalasHapuspalagi klo malem dan gak hujan, ya asyiknya seasyik foto2mu...
tu yang lampu2 bentuk angsa, aku sukaaa...
hehehe...jadi ngiri pengen kesana lagi neng...
iya mbak, aku juga paling suka sama lampion angsa itu soalnya romance bangeeeet!!! sini mbak ke Jogja! :)
Hapuswuiiiihh menyenangkan banget tuh mbak jalan jalanya,, keren keren euyy futunya jadi pengen berkunjung disana haha tapi kapan yah..
BalasHapusayo berkunjung Zhie:)
HapusWah... ngemeng2 itu dekat sama museum jogja kembali? atau didalamnya ya?
BalasHapusitu di dalamnya kk :D
Hapusmirip kaya BNS ya kalo diliat dari lampionnya hehe :)
BalasHapusbahkan aku nggak tau BNS itu apaan.-.-
Hapuswah cakep banget...kalau kesana kudu mampir nih
BalasHapus